Analisis ketepatan model altman, springate, zmijewski, ohlson dan grover Sebagai detektor kebangkrutan: Studi kasus pada perusahaan yang delisting di bursa efek Indonesia (BEI) Periode 2010-2014

Andrianti, Andrianti (2016) Analisis ketepatan model altman, springate, zmijewski, ohlson dan grover Sebagai detektor kebangkrutan: Studi kasus pada perusahaan yang delisting di bursa efek Indonesia (BEI) Periode 2010-2014. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img] Text (Fulltext)
12510190.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (3MB)

Abstract

INDONESIA:

Tingkat kesehatan perusahaan sangatlah penting artinya bagi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dalam menjalankan usahanya, sehingga kemampuan untuk memperoleh keuntungan dapat ditingkatkan yang akhirnya dapat menghindari adanya kemungkinan kebangkrutan suatu perusahaan. Salah satu indikator kebangkrutan suatu perusahaan adalah delisting dari BEI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui manakah diantara model Altman, Springate, Zmijewski, Ohlson dan Grover yang paling tepat sebagai detektor kebangkrutan pada perusahaan.

Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan yang telah delisting dari Bursa Efek Indonesia periode 2010-2014 dengan menggunakan pendekatan studi laporan keuangan tiga tahun sebelum perusahaan tersebut di delisting. Teknik pengambilan objek dalam penelitian ini adalah dengan purposive sampling. Dalam penelitian ini sampel yang dipakai sebanyak 12 perusahaan dari 17 perusahaan yang didelisting selama periode penelitian.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model Altman memiliki tingkat akurasi sebesar 58,33%, Springate memiliki tingkat akurasi sebesar 66,67%, Zmijewski memiliki tingkat akurasi sebesar 33,33%, Ohlson memiliki tingkat akurasi sebesar 8,33% dan Grover memiliki tingkat akurasi sebesar 41,67%. Dari kelima model analisis kebangkrutan yang digunakan dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model Springate merupakan model yang paling tepat digunakan sebagai detektor kebangkrutan dengan tingkat akurasi sebesar 66,67%. Hal ini karena perusahaan yang mengalami kebangkrutan memiliki kecenderungan menghasilkan modal bersih yang kecil dari total asetnya, kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba sebelum bunga dan pajak dari aktivanya semakin kecil, semakin kecilnya tingkat penjualan perusahaan dengan menggunakan seluruh aktivanya, dan semakin kecil kemungkinan laba sebelum pajak dapat menutupi hutang lancar yang dimiliki perusahaan.

ENGLISH:

The level of corporate health is very important for the company to improve efficiency in the operations, so the ability to make a profit can be improved which can eventually avoid the possibility of bankruptcy of a company. The bankruptcy of a company begins with the emergence of financial difficulties (financial distress). The aim of this study was to determine which of the Altman model, Springate, Zmijewski, Ohlson and Grover most accurate in predicting financial distress at the company who have delisted from the Indonesia Stock Exchange in 2010-2014.

This research use qualitative descriptive method. The object of this research are companies that have been delisted from the Indonesia Stock Exchange in 2010-2014 by using a three-year study of the financial statements before the company delisted. The object of this study used purposive sampling method. In which 12 companies from 17 companies which delisted during the study period is used as the sample in this study.

The results showed that the model Altman has an accuracy rate of 58.33%, Springate has a 66.67% accuracy rate, Zmijewski has an accuracy rate of 33,33%, Ohlson has an accuracy rate of 8.33% and an accuracy Grover amounting to 41.67%. Of the five bankruptcy analysis model used in this study can be concluded that the model Springate is the most appropriate model is used as detector of bankruptcy with a level of accuracy of 66.67%. This is because corporate bankruptcies have a tendency to produce a net capital smaller than total assets, the company's ability to generate earnings before interest and tax of assets is getting smaller, the small level of the selling company with all its assets, the smaller profit will be got by the company before the tax which covered the debt that the company had.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Munir, Misbahul
Keywords: Altman; Springate; Zmijewski; Ohlson; Grover; Kebangkrutan dan Delisting; Altman; Springate; Zmijewski; Ohlson; Grover; Bankruptcy and Delisting
Departement: Fakultas Ekonomi > Jurusan Manajemen
Depositing User: Ratih Novitasari
Date Deposited: 25 Jun 2016 05:50
Last Modified: 25 Jun 2016 05:50
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/2875

Actions (login required)

View Item View Item