Responsive Banner

Pandangan hakim terhadap batas minimal usia perkawinan pasal 7 ayat (1) dalam Undang-undang Perkawinan No.16 Tahun 2019 perspektif Istihsan: Studi di Pengadilan Agama Kabupaten Malang dan Mojokerto

Mahmudah, Risalatul (2020) Pandangan hakim terhadap batas minimal usia perkawinan pasal 7 ayat (1) dalam Undang-undang Perkawinan No.16 Tahun 2019 perspektif Istihsan: Studi di Pengadilan Agama Kabupaten Malang dan Mojokerto. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
17781004.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (3MB) | Preview

Abstract

مستخلص البحث

تأكد عن عمر نكاحا قليلا، احدهما ليتقي عن نكاح الولد. هذا مهم عن عهدة الحكم ث تعليل عمر العلوم وتضوج النفسى وكذالك بتوقع عائلة المتناغم والحصول على ذرية جيدة وصحية. الغرض من هذا البحث هو تحليل مدى إلحاح الحد الأدنى للسن في الفقرة (1) من المادة 7 من قانون الزواج رقم 16 لعام 2019 حول الزواج من وجهة نظر قضاة المحكمة الدينية المحلية في مالانغ وموجوكيرتو. نوع البحث المستخدم هو البحث الميداني الذي يستخدم منهجاً نوعياً.

أما الطريقة المستخدمة في جمع البيانات هي المقابلة و الإختبار. و كان تحليلي وصفي لتأكّد عن عمر نكاحا قليلا في فصل 7 القانون الزواج رقم 16، 2019 سنة لرأي المحاكم الدينية في مالج وموجوكرطا بستعمال إنطباع استحسان.

وتحصيل في هذا البحث هو 1. لمعرفة رأي المحاكم الدينية في مالج وموجوكرطا في القانون الزواج رقم 16، 2019 سنة ، هما تحليل أهمية تأكّد عن عمر نكاحا قليلا ولا تحليل أهمية تأكّد عن عمر نكاحا قليلا. 2. يستعمل احتمال قانون الزواج رقم 16، 2019 سنة لمعرفة أهمية تأكّد عن عمر نكاحا قليلا في رأي المحاكم الدينية في مالج وموجوكرطا هو ليصغر عمر نكاحا بمقيد البنا الشعور مجتمع والبنا ثقافي الأعلى. 3. رأي المحاكم الدينية مالج وموجوكرطا في القانون الزواج رقم 16، 2019 سنة هو يملك وغير ذالك أهمية تأكّد عن عمر نكاحا قليلا ليصغر عمر نكاحا لمعرفة إنطباع استحسان إيمام حانقي. لا يملك أهمية لأن عمره في هذا قانون الزواج له تفهم قوائد استحسان إيمام حانقي هما حفظ النفسى وحفظ النسل وحفظ العقل وحفظ المال. أن تأكّد عمر قي نكاحا قليلا بين رجال و نساء مختلفين يعتبر محسن. لشكل من اشكال الحراسة و الحفاظ على المشاكل بغير ذالك

ABSTRACT

The stipulating provision regarding the minimum age in carrying out marriage is to avoid child marriages. It is important to protect laws in Indonesia; besides, there are considerations of education age, the maturity of trust, and other factors with the expectations of realizing the purpose of harmonious marriage and getting good and healthy offspring.

The purpose of this research is to analyze how the urgency and opportunity of the implementation of minimum age limit of the marriage article 7 paragraph (1) in LAW No. 16 of 2019 about marriage from the view of the judges of the District religious Court of Malang and Mojokerto. The type of research used is field research that uses a qualitative approach. Collection of data on this research by way of interviews and documentation. The data analysis technique is descriptive which aims to describe of the minimum age limit of the marriage in LAW No. 16 of 2019 by the view of the judges of the District religious Court of Malang and Mojokerto, as well as a series of analyses using the perspectives of istihsan.

The result of this research shows that: 1) Based on the view of Religious Courts Judges of Malang and Mojokerto Regency toward UU No.16 2019, the minimum age of marriage has have urgency as an effort to prevent child marriage and does not have urgency as an effort to prevent child marriage. 2) The opportunity of the implementation of UU No.16 2019 regarding the minimum age of marriage based on Religious Courts Judges of Malang and Mojokerto Regency's view is to suppress the number of child marriages. The challenges that have to be faced are developing community legal awareness and providing higher education access. 3) Religious Court Judges of Malang and Mojokerto Regency's view regarding the minimum age of marriage in UU No.16 2019 has and does not have urgency as an effort to suppress the number of child marriages in the perspective of Istihsan Imam Hanafi. It does not have urgency because the age in UU No.16 2019 has not absorbed the Istihsan Hanafiyah principle regarding keeping the soul (hifz al-nafs), looking after offspring (hif}z} al-nasl), keeping mind (hif}z al-aql), and keeping wealth (hif}z al-mal). The difference of the minimum age of marriage between man and woman is considered mustahsin, as a form to protect and maintain from the problems of the minimum age of marriage.

ABSTRAK

Ditetapkannya ketentuan mengenai batas minimal usia dalam melaksanakan perkawinan salah satunya adalah untuk menghindari terjadinya perkawinan anak. Hal ini penting dalam usaha perlindungan hukum di Indonesia, di samping itu juga ada pertimbangan usia pendidikan, kematangan kepribadian, dan faktor lainnya, dengan harapan dapat mewujudkan tujuan perkawinan harmonis dan mendapatkan keturunan yang baik dan sehat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana batas minimal usia perkawinan pasal 7 ayat (1) dalam UU No.16 Tahun 2019 Tentang perkawinan dari pandangan Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Malang dan Mojokerto.

Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan yang menggunakan pendekatan kualitatif dan yuridis. Pengumpulan data pada penelitian ini dengan cara wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data bersifat deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan batas minimal usia perkawinan dalam UU No.16 Tahun 2019 oleh pandangan Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Malang dan Mojokerto, serta serangkaian analisis menggunakan perspektif istihsan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Berdasarkan pandangan hakim Pengadilan Agama Kabupaten Malang dan Mojokerto terhadap UU No.16 tahun 2019 mengenai batas minimal usia perkawinan miliki urgensitas dan tidak memiliki urgensitas sebagai upaya mencegah perkawinan anak. 2) Peluang terlaksananya UU Perkawinan No.16 tahun 2019 mengenai batas minimal usia perkawinan berdasarkan pandangan para Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Malang dan Mojokerto adalah untuk menekan angka perkawinan anak. Dengan tantangan yang harus dilalui yaitu membangun kesadaran hukum masyarakat dan menyediakan akses pendidikan tinggi. 3) Pandangan Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Malang dan Mojokerto terkait batas minimal usia dalam undang-undang perkawinan No.16 tahun 2019 memiliki dan tidak memiliki urgensitas sebagai upaya menekan perkawinan anak perspektif Istihsan Imam Hanafi. Tidak memiliki urgensitas karena usia yang terkandung dalam UU No.16 tahun 2019 belum menyerap prinsip Istihsan Imam Hanafi yang berkaitan dengan menjaga jiwa (hif}z} al-nafs), menjaga keturunan (hif}z} al-nasl), menjaga akal (hif}z al-aql)}, menjaga harta (hif}z al-mal). Batas minimal usia perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang berbeda adalah dinilai muhtahsin, sebagai bentuk untuk menjaga dan memelihara atas problematika seputar batas minimal usia perkawinan.

Item Type: Thesis (Masters)
Supervisor: Saifullah, Saifullah and Badruddin, Badruddin
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDSaifullah, SaifullahUNSPECIFIED
UNSPECIFIEDBadruddin, BadruddinUNSPECIFIED
Keywords: عمر نكاحا قليلا; إنطباع استحسان; Batas Minimal Usia Perkawinan; Perspektif istihsan; Minimum limit of marital age; perspectives of Istihsan
Departement: Sekolah Pascasarjana > Program Studi Magister al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Risalatul Mahmudah
Date Deposited: 29 Apr 2021 09:43
Last Modified: 18 May 2021 08:56
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/26622

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item