Responsive Banner

Analisis keharusan adanya saksi saat perceraian pada pasal 76 Undang-undang nomor. 50 tahun 2009 tentang Peradilan Agama dengan Konsep Maslahah Syatibi

Hafizhullah, Muhammad Ariza (2021) Analisis keharusan adanya saksi saat perceraian pada pasal 76 Undang-undang nomor. 50 tahun 2009 tentang Peradilan Agama dengan Konsep Maslahah Syatibi. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
16210119.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview

Abstract

مستخلص البحث

في عمليةالطلاق العدلي الدين، يجب على المدعي والمدعى عليه لحضر الشاهدين ليتبينوا الحدث الوقع، متساوياعلى فصل ٧٦ عن القانون الرقم .٥ العام ٢٠٠٩ عن العدلي الدين. بل يختلف ذالك التنظيم باالتنظيم الفقه، اما الفقه هو لايلتزم كون الشاهد لشرط الطلاق، لان اساسيا الزوج الذي يملك الحق الطلاق على الزوجة. صياغة المشكلة في هذا البحث هي: هل التزام كون الشاهد في الطلاق؟ كيف تحليل المصلحة الفصل ٦٧ عن القانون الرقم .ه العام ٢٠٠٩

هذا البحث هو المعياري او مكتبة البحث، نبدء من مرحلةطلب البيانات وحصل البحث في هذ البحث، جميعها، نال البح من المصادر الكتابات التي تكون في الكتب، القانون، البحوث العلمية التي تتعلق بالتدقيق الشاهد، ثم يصل الباحث بتحليل المصلحة. حصل التعرف من البحث، هو يلتزم ان يجب كون الشاهد في الطلاق لان القانون العدلى الدين كما يكتب ان مراجعة قانونيا الذي يكون اولا في (RBG) و (HIR) على اندونيسيا ومازله متساويا يحتياج الحكم للمجتمع الشاهدين(RBG) و (HIR) اندونسيا، اوجب لكي يحضروا في القاضي، عند لا يحضر فيدعوا مرة وينال العقاب ليبتيع التكلفة الدعوة اليه الذي فعل القاضي، و يبتيع لافراد الذين ينالون الاثر على غاءبة، تفعل الدعوة مرة حتى يحضر في القاضي. بل عند لا يحضر ويتاكد لان ينال العذر الصحح، فبسبب ذالك، يتخلع من جميع الشاهدين.

اما حصل التعرف في المصلحة هو: كون الشاهد في الطلاق هو المصلحة الحجية (التكميلة)، هي سهل ليعتبر الواقع الحقيق، تعلق لحفظ النسب، لان عند لا يكون الشاهد سيعطي الفرصة حدث الطلاق بناء على افعال الحضر الذي يؤثر المضارة لنسبه

ABSTRACT

In the divorce process in the religious court, the plaintiff and the defendant must present witnesses to explain the actual event, this is in accordance with article 76 of Law No. 50 Year 2009 concerning Religious Courts. However, these regulations contradict the rules of jurisprudence. Jurisprudence does not require a statement of divorce requirements because it is related to a husband who has the right of divorce for his wife. The problems of this study are: Should there be a witness at the divorce? How is the analysis of maslahah on article 76 of Law No. 50 Year 2009? This is a normative or library research. This starts by the step of searching data. However, the results of this study have obtained from written sources contained in books, laws, theses related to the examination of witnesses.

Then,researcher compares it with the analysis of the problem. The results of identification are there must be witnesses in divorce because the Religious Courts law as written above has referred to the HIR and RBG as laws that first existed in Indonesia and are still in accordance with needs the law for the people of Indonesia. HIR and RBG has required witnesses to come to the trial. If these witnesses do not come. They will continue to be summoned. They are authorized to pay the summon for their summons by the Court. They also pay fees to parties that have been affected by it in their absence. The summons will continue until the witnesses appear in court. However, when a brand does not come and can be proven because it has been hit by a legal obstacle. They are therefore free from all sanctions.

The identification results of maslahah are the presence of witnesses in the divorce process is maslahah hajiyyah (perfection), which is the easiness of uncovering the actual event. This is to safeguard nasl or offspring because if there are no witnesses later, it will provide an opportunity for divorce based solely on the participation of the parents who will impact the despair against his off spring.

ABSTRAK

Didalam proses perceraian pada peradilan agama, penggugat dan tergugat harus menghadirkan saksi-saksi guna menerangkan kejadian yang sebenarnya, ini senada dengan pasal 76 Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang peradilan Agama. Namun peraturan tersebut ternyata bertolak belakang dengan ketentuan didalam fiqih, adapun ketentuan pada fiqih yakni, tidak mengharuskan ada saksi sebagai syarat talak atau cerai, karena pada dasarnya suamilah yang memiliki hak talak kepada isteri.

Rumusan masalah pada penelitian ini yakni: apakah harus ada saksi pada perceraian ? Bagaimana analisis maslahah terhadap pasal 76 Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 ? Penelitian ini adalah penelitian normatif atau library research yakni mulai pada langkah pencarian data serta hasil penelitian didalam penelitian ini keseluruhannya telah peneliti dapatkan dari sumber-sumber tertulis yang terdapat didalam buku-buku, undang-undang, skripsi-skripsi yang berhubungan dengan pemeriksaan saksi, kemudian peneliti sandingkan dengan analisis maslahah. Hasil identifikasi dari peneliti yakni, harus ada saksi pada perceraian, sebab undang-undang peradilan Agama sebagaimana tertulis diatas telah merujuk pada HIR dan RBG sebagai undang-undang yang lebih dulu ada di negara Indonesia serta masih sesuai dengan kebutuhan hukum bagi warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, HIR dan RBG telah mengharuskan saksi-saksi supaya datang ke persidangan, yang bilamana saksi-saksi ini tidak datang, maka akan terus dipanggil serta pula mereka tersanksikan untuk membayar biaya pemanggilan terhadap dirinya yang telah dilakukan oleh Pengadilan, ditambah pula membayar biaya kepada pihak-pihak yang telah terkena dampak atas ketidak hadiran mereka, pemanggilan akan terus dilakukan sampai saksi-saksi itu datang ke pengadilan.

Namun ketika mereka tidak datang dan dapat terbukti karena telah terkena halangan yang danggap sah, maka oleh sebab itu mereka terbebaskan dari semua sanksi.

Adapun hasil identifikasi pada maslahah yakni; adanya saksi didalam proses cerai merupakan maslahah hajiyyah (penyempurna), yang merupakan kemudahan untuk mengungkap peristiwa yang sebenarnya terjadi, kaitannya demi menjaga nasl atau keturunan. apabila tidak ada saksi ketika bercerai nantinya memberikan peluang terjadinya perceraian yang hanya berdasarkan tindakan keserta mertaan yang akan mengimbaskan kemudlaratan terhadap keturunannya kelak

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Zuhriah, Erfaniah
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDZuhriah, ErfaniahUNSPECIFIED
Keywords: التزام كون الشاهد؛ تحليل المصلحة; Keharusan Adanya Saksi; Analisis Maslahah; The Requirement for a Witness; Analysis of Maslahah َ
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Muhammad Ariza Hafizhullah
Date Deposited: 24 Mar 2021 10:21
Last Modified: 24 Mar 2021 10:24
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/26170

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item