Responsive Banner

Larangan Tradisi Perkawinan "Salep Tarjhe" Perspektif Maqosid Syariah Al-Syatibi

Ulum, Fathul (2020) Larangan Tradisi Perkawinan "Salep Tarjhe" Perspektif Maqosid Syariah Al-Syatibi. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
17781025.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB) | Preview

Abstract

مستخلص البحث

زواج صليب ترجهي حرم من الزواج بين الأقارب الذكور من جانب الزوجة والأقارب من جانب الزوج ، والأخ وأبناء الجالسين ، والأشقاء ، وابن العم ، والعم ، وحتى الأحفاد ونحو ذلك. خلاف ذلك ، لا تحظره التقاليد. لم يشرح الصياثيبي مقاصد الشريعة صراحة في كتابه ، لكنه يشرح بشكل مباشر بالتفصيل مفتاح مقاصد الشريعة من التوزيع.

الغرض من هذا البحث ، هو الأول الذي يصف آراء المجتمع في قرية Tragih ، مقاطعة Robatal ، Sampang Regency حول تقليد حظر زواج Salep Tarjhe. الثاني: لوصف تحليل مقاصد الشريعة السياطبي حول تقليد تحريم زواج صليب ترجحي

تشير نتائج هذا البحث إلى ما يلي: 1) يتكون رأي المجتمع في تقليد تحريم زواج صليب ترجحي من نوعين ، الأول: الأشخاص الذين يؤمنون بهذا التقليد ، أي هو تصنيف ممل ، وثانيًا: الأشخاص الذين يشكون في التقليد. لصليب ترجحي. أي مجتمع ذو تصنيف مرن. 2) عند النظر إليها من المنظور الاجتماعي والأنثروبولوجي ، فإن تقليد حظر زواج صليب تراجه هو ضرورة كشكل شامل من أشكال العمل البشري من خلال الأفكار والأفكار والأفعال التي تشير إلى نظام القيم عندما نكتشفه في علاقتهما بين الأديان والتي هي وسيلة للتلاحم مع الثقافة البشرية. فكل ما يحيط بطقس النكاح يدخل في فئة حجيات المصلحة. في حين أن الزواج من منظور مقاصد الشريعة الصياطيبي يدخل في مستوى الدرريات ، لأنه سيكون وسيلة رعاية في الحفاظ على الدين وخلق حياة متناغمة. لذا بشكل متكامل وفي مراجعة مقاصد الشريعة ، فإن تقليد تحريم زواج مرهم ترجح هو تقليد يجب الحفاظ عليه ، على الرغم من وجود انحرافات عن القانون في بعض الأجزاء. ومع ذلك ، في دراسة المؤلف ، هذا ليس مبدأ.

ABSTRACT

Salep Tarjhe Marriage is a prohibition on getting married between male relatives from the wife's side and female relatives from the husband's side, brother and sitser in-laws, siblings, cousin, uncle, even grandchildren and so on. Otherwise, it is not prohibited by tradition. Maqashid Sharia is not explicitly explained by Al-Syathibi in his book, but he directly explains in detail about the key of Maqashid Sharia from the distribution.

The purpose of this research, the first to describe the views of the society in Tragih Village, Robatal District, Sampang Regency on the tradition of prohibiting Salep Tarjhe marriage. The second, to describe the analysis of the Al-Syatibi’s Maqashid Sharia about the tradition of prohibiting Salep Tarjhe Marriage.

The results of this research indicate: 1) The society's view of the tradition of prohibition Salep Tarjhe marriage, consists of two typologies, The first: people who believe in this tradition, namely is an stodgy typology, and second: people who doubt the tradition of Salep Tarjhe. namely is a society with a flexible typology. 2) When viewed from the socio-anthropological, the tradition of prohibiting Salep Trajhe marriage is a necessity as a holistic patterned form of human work through ideas, ideas and actions that refer to the value system when we detect it in their interreligious relationship which is a means of cohesion with human culture. So all the traditions surrounding the marriage rite are included in the category of maslahah hajjiyat. Whereas in the perspective of maqashid sharia Al-Syatibi, marriage is included in the dloruriyyat level, because with it will be a means of caring in maintaining religion and for creating a harmonious life. So integrally and in its Maqasid Syariah review, the tradition of prohibiting marriage of tarjhe ointment is a tradition that must be preserved, although in some parts there are deviations from the law normatively. However, in the author's study, it is not principle.

ABSTRAK

Perkawinan Salep Tarjhe adalah larangan melangsungkan perkawinan antara kerabat laki-laki dari pihak istri dengan kerabat perempuan dari pihak suaminya -baik ipar, saudara kandung, misan, paman, bahkan cucu dan seterusnya. Apabila sebaliknya, maka tidak dilarang dalam tradisi. Maqashid Syariah tidak dijelaskan secara tegas olehAl-Syathibi di dalam kitabnya, akan tetapi Al-Syathibi langsung menjelaskan secara detail tentang kunci dari Maqashid Syariah dari pembagiannya.

Penelitian ini Pertama bertujuan untuk mendeskripsikanpandangan masyarakat Desa Tragih Kecamatan Robatal Kabupaten Sampang terhadap tradisi larangan perkawinan salep Tarjhe. Kedua untuk mendeskripsikan analisis Maqosid Syari’ah Al-Syatibi mengenai tradisi larangan perkawinan Salep Tarjhe tersebut.

Proses penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan jenis penelitian lapangan dan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian bertempat di Desa Tragih Kecamatan Robatal Kabupaten Sampang. Sumber datanya yaitu primer dan skunder. Pengumpulan data berupa wawancara dan dokumentasi. Analisis datanya ialah pengeditan, klasifikasi, dan menganalisis. Adapun keabsahan data menggunakan triangulasi dari sumber data dan mengaitkan dengan teori Maqosid Syari’ah Al-Syatibi.

Hasil penelitian ini menunjukkan: 1)Pandangan masyarakat terhadap tradisi larangan perkawinan Salep Tarjhe, terdiri dari dua tipilogi, pertama: kalangan masyarakat yang mempercayai tradisi tersebut yaitu dengan tipologi kolot dan kedua: masyarakat yang cenderung meragukan tradisi salep tarjhe, yakni kalangan masyarakat dengan tipologi fleksibel. 2) Jika dilihat dari sisi sosio-antropologis, tradisi larangan perkawinan Salep Trajhe adalah suatu keniscayaan sebagai bentuk terpola secara holistik dari karya manusia melalui ide, gagasan dan tindakan yang mengacu pada sistem nilai apabila kita deteksi dalam relasinya antar agama yang merupakan sarana kohesi dengan kebudayaan manusia. Maka segala tradisi yang melingkungi ritus perkawinan termasuk dalam kategori maslahah hajjiyat.Sedangkan dalam perspektif maqashid syariahAl-Syatibi, pekawinan termasuk dalam tingkatan dloruriyyat, karena dengannyaakan menjadi sarana kepedulian dalam menjaga agamaserta untuk menciptakan kehidupan yang harmonis. Makasecara integral, pun dalam tinjauan Maqasid Syariah-nya, tradisi larangan perkawinan salep tarjheadalah tradisi yang memang harus dilestarikan, walaupun dalam beberapa bagian terdapat penyimpangan dari hukum secara normatif. Akan tetapi dalam kajian penulis, hal itu tidak bersifat prinsipiel

Item Type: Thesis (Masters)
Supervisor: Roibin, Roibin and Nasrulloh, Nasrulloh
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDRoibin, RoibinUNSPECIFIED
UNSPECIFIEDNasrulloh, NasrullohUNSPECIFIED
Keywords: تقليد تحريم النكاح صليب ترجحي; مقاصد الشريعة الشاطيبي; Tradisi Salep Tarjhe; Maqosid Syariah Al-Syatibi Tradition of the Prohibition Salep Tarjhe; Maqashid Syariah Al-Syatibi
Departement: Sekolah Pascasarjana > Program Studi Magister al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Unnamed user with email Olehora41@gmail.com
Date Deposited: 30 Nov 2020 13:24
Last Modified: 30 Nov 2020 13:24
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/23300

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item