Responsive Banner

Tradisi punggawa sawi perspektif hukum Islam dan undang-undang no 16 tahun 1964 tentang bagi hasil perikanan:studi di desa Rappoa Kecamatan Pajukukang Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan

Waniaga, Andi Nisar (2020) Tradisi punggawa sawi perspektif hukum Islam dan undang-undang no 16 tahun 1964 tentang bagi hasil perikanan:studi di desa Rappoa Kecamatan Pajukukang Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img] Text (Fulltext)
14220070.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (3MB)

Abstract

INDONESIA:

Pada dasarnya, manusia adalah mahluk sosial yang dalam kehidupan senantiasa berinteraksi antara satu dengan yang lain. Masing-masing individu saling bergantung dalam memenuhi hajat hidupnya, tidak ada satu orang pun di dunia yang bisa hidup tanpa bantuan orang lain dalam kehidupannya. Salah satu kelompok masyarakat yang hidup dalam memanfaatkan sumberdaya alam laut adalah masyarakat pesisir yang didominasi oleh nelayan, kebudayaan mereka dilingkupi kebudayaan perairan dengan mengandalkan kerjasama dalam menjalankan pekerjaannya, bagi hasil seperti yang dijelaskan pada Undang-Undang yaitu antara pihak yang melakukan bagi hasil harus sesuai dengan kesepakatan atau akad yang telah disetujui sebelumnya dan juga harus sesuai dengan ketentuan yang ada dalam Undang-Undang. Salah satu masyarakat yang melaksanakan model perjanjian kerjasama ini adalah masyarakat di Desa Rappoa Kecamatan Pajukukang Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan.
Dalam penelitian ini terdapat rumusan masalah yaitu : 1) Apakah sistem Punggawa Sawi Desa Rappoa Kabupaten Bantaeng Sesuai dengan Undang-Undang No 16 tahun1964? 2) Bagaimana praktik Sistem Punggawa Sawi Desa Rappoa Kabupaten Bantaeng ditinjau dari sudut pandang hukum Islam? Penelitian ini merupakan jenis penelitian empiris dengan pendekatan sosiologis dengan menggunakan metode wawancara, dan dokumentasi
Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa perjanjian bagi hasil antara Punggawa dan Sawi di Desa Rappoa kecamatan Pajukukang Kabupaten Bantaeng, masih dilakukan secara lisan , masih mengikuti adat istiadat yang berlaku di Masyarakat Desa Rappoa,dalam Undang-Undang No 16 tahun 1964 pembagian hasil antara kedua belah pihak sudah sesuai dengan apa yang di tulis di Undang-Undang No 16 tahun 1964, akan tetapi ketika terjadi suatu kecelakaan atau insiden maka tidak ada peraturan tertulis yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut sehingga merugikan Sawi yang kondisi Ekonomi nya dibawah dari Punggawa (pemilik kapal), sedangkan dalam hukum Islam praktik Punggawa dan Sawi sudah sesuai dengan teori Mudharabah yaitu sistem bagi hasil , penjabaran bagi hasil yang dilakukan oleh Punggawa dan Sawi di Desa Rappoa Kecamatan Pajukukang Kabupaten Bantaeng yaitu keuntungan di bagi 50% - 50% setelah dikurangi biaya akomodasi untuk melaut jadi apa yang dilakukan punggawa dan sawi sudah sesuai dengan hukum Islam

ENGLISH:

Fundamentally, humans are social creatures who in life always interact one another. Each individual is interdependent to fulfill needs of their life. No one in the world can live without other’s help. One of the groups of community who live in utilizing marine natural resources is coastal communities which dominated by fishermen. Their cultures are surrounded by territorial waters culture which are relied on teamwork in carrying out their works, revenue sharing as explained in Law that is between the parties conducting revenue sharing must comply with the agreement that has been agreed upon in advance and must also comply with the provisions contained in the Law. One of the communities implementing the model of the cooperation agreement is the community in Rappoa Village, Pajukukang District, Bantaeng Regency, South Sulawesi
The research questions of this study, are: 1) Is the Punggawa Sawi system in in Rappoa Village Pajukukang District Bantaeng Regency in accordance with Law No.16 of 1964? 2) How is the practice of Punggawa Sawi system in Rappoa Village Pajukukang District Bantaeng Regency in the perspective of Islamic Law? This study is empirical research with sociological approach using interview and documentation method.
The results of this study are able to be concluded that revenue sharing agreement between Punggawa and Sawi in Rappoa Village Pajukukang District Bantaeng Regency is still in verbally practice, still following the customs of Rappoa village community. In the Law No.16 of 1964, revenue sharing between two parties had complied in the Law No. 16 of 1964 yet, when an incident happens, there is no written rules which is responsible for it so the Sawi whose the economic condition is below of the Punggawa (ship owner) is detrimental. Whereas, in Islamic Law, the practice of Punggawa and Sawi is in line with Mudharabah theory, the revenue sharing. The elucidation of revenue sharing by Punggawa and Sawi in Rappoa Village Pajukukang District Bantaeng Regency is 50%-50% of the profit after cutting accommodation cost to have seaward. In short, what Punggawa and Sawi practice has already comply Islamic Law

Arabic:

في الأساس ، الناس هي المخلوقات الاجتماعية تتفاعل دائمًا بعضها ببعض في الحياة. كل فرد مترابط في تلبية احتياجية حياته ، لا يمكن لأي شخص في العالم أن يعيش بدون مساعدة الآخرين. إحدى من مجموعات الأشخاص الذين يعيشون في استخدام الموارد الطبيعية البحرية هي مجتمع ساحلي يسمل عليه الصيادون ، ثقافتهم محاطة بالثقافة المائية من خلال الاعتماد على التعاون في تأدية أعمالهم ، ويجب أن يكون تقاسم الأرباح كما هو موضح في القانون الذي يتم بين الأطراف التي تقوم بتقاسم الإيرادات الاتفاقية أو الاتفاقية التي تم الاتفاق عليها قديما ويجب أن تكون مناسبا أيضًا للأحكام الواردة في القانون.
صياغة المشكلة في هذا البحث ألا وهي: 1) هل نظام تجنيب الخردل في قرية رابوى دائرة بانتاجينغ وفقًا للقانون رقم 16 لعام 1964؟ 2) كيف ممارسة نظام تجنيب الخردل في قرية رابوى فرعية بانتاجينغ من نظرة الشريعة الإسلامية؟ هذا البحث هو نوع من البحث التجريبي مع نهج اجتماعي باستخدام أساليب المقابلة ، والوثائق.
من نتائج البحث خلصت بأن اتفاق تقاسم الإنتاج بين التجنيب الخردل في قرية رابوى، منطقة باجوكوكانج ، فرعية بانتاجينغ ، لا يزال اتفاقا لفظيا ، لا يزال تابعا بالعادات التي تنطبق في قرية رابوى، في القانون رقم 16 لعام 1964 لتبادل النتائج بين الطرفين وفقًا لما هو منصوص عليه في القانون رقم 16 لعام 1964 ، لكن عند وقوع حادث أو حدث ، لا يوجد نظام مكتوب يكون مسؤولاً عن الحادث بحيث يضر الخردل التي تكون ظروفها الاقتصادية أدنى من حالة التجنيب (مالك السفينة) ، ولكن الحكم في الشريعة الإسلامية ، تتوافق ممارسة التجنيب و الخردل مع نظرية المضاربة يعنى نظام تقاسم الإيرادات, وترجمة تقاسم الإيرادات التي تنفذها التجنيب و الخردل في قرية رابوى، منطقة باجوكوكانج ، فرعية بانتاجينغ يعنى توزيع الربح بنسبة 50 ٪ - 50 ٪ بعد نقص تكلف الإقامة للذهاب إلى البحر. ما يفعله التجنيب و الخردل وفقًا للقانون الإسلام

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Yasin, Mohamad Nur
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDYasin, Mohamad NurUNSPECIFIED
Keywords: Punggawa;sawi;bagi hasil Punggawa;Sawi;Revenue Sharing التجنيب ; الخردل ; تقاسم الإيرادات
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180127 Mu'amalah (Islamic Commercial & Contract Law) > 18012706 al-Dhaman (Jaminan)
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan Hukum Bisnis Syariah
Depositing User: Andi Nisar Waniaga
Date Deposited: 27 Nov 2020 10:46
Last Modified: 27 Nov 2020 10:46
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/23274

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item