Converting inheritance rights into saving and loan form in maslahah perspective: Case study in Geluran, Taman, Sidoarjo

Amiruddin, Irfan (2015) Converting inheritance rights into saving and loan form in maslahah perspective: Case study in Geluran, Taman, Sidoarjo. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Introduction)
11210036 Pendahuluan.pdf

Download (926kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Abstract: Indonesia)
11210036 Indonesia.pdf

Download (90kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Abstract: English)
11210036 English.pdf

Download (161kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Abstract: Arabic)
11210036 Arab.pdf

Download (356kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 1)
11210036 Bab 1.pdf

Download (544kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 2)
11210036 Bab 2.pdf

Download (954kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 3)
11210036 Bab 3.pdf

Download (418kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 4)
11210036 Bab 4.pdf

Download (636kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 5)
11210036 Bab 5.pdf

Download (305kB) | Preview
[img]
Preview
Text (References)
11210036 Daftar Pustaka.pdf

Download (225kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Appendices)
11210036 Lampiran.pdf

Download (515kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Summary)
11210036 Ringkasan.pdf

Download (604kB) | Preview

Abstract

INDONESIA:

Berdasarkan pada al-Quran, pembagian waris dilaksanakan setelah meninggalnya pewaris. Selanjutnya, harta waris tersebut diberikan kepada ahli waris secara otomatis. Maka, setiap ahli waris mendapatkan hak untuk memiliki harta waris. Namun, salah satu keluarga di Desa Geluran Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo, membuat suatu kesepakatan bahwa ahli waris tidak mendapatkan hak untuk memiliki harta waris (uang waris). Hak warisnya dikonversikan menjadi simpan dan pinjam. Seluruh bagian uang ahli waris diberikan kepada anak pertama pewaris, selanjutnya uang tersebut disimpan oleh anak pertama. Suatu saat, ahli waris dapat meminjam uang tersebut dan mengembalikannya ketika sudah mampu. Pembagian waris ini tidak membatasi waktu pengembalian uang dan juga tidak menetapkan bunga. Pembagian waris ini menjadi kasus yang diteliti karena terdapat perbedaan cara pembagian menurut hukum waris islam. Penelitian ini merumuskan masalah-masalah, yakni: 1) mengapa orang-orang mengkonversi hak waris menjadi bentuk simpan dan pinjam? dan 2) Bagaimana maslahah memandang konversi hak waris menjadi bentuk simpan dan pinjam?

Penelitian ini menggunakan penelitian empiris (penelitian lapangan) dan pendekatan kualitatif yang berdasarkan pada analisis deskriptif. Tempat penelitian di Desa Geluran, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer yang digunakan adalah wawancara pada informan (the heirs). Data sekundernya adalah dokumen- dokumen tertulis, buku-buku, penelitian-penelitian terdahulu, peraturan-peraturan yang berkaitan dengan judul skripsi. Khususnya, peneliti membutuhkan buku- buku yang berbicara tentang konsep hukum waris islam dan maslahah. Selanjutnya, pandangan maslahah Najamuddin at-Thufi adalah alat penelitian ini. Konsepnya digunakan sebagai dasar teori untuk mendiskusikan fakta-fakta yang ditemukan. Diskusi tersebut bertujuan untuk mendapatkan hasil penelitian yang benar dan teoritis.

Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa alasan mengkonversikan hak waris menjadi simpan dan pinjam mempunyai tiga keuntungan dan dua kerugian. Keuntungannya adalah: 1) untuk membantu ahli waris yang membutuhkan dana, 2) untuk mencegah perpecahan diantara ahli waris, dan 3) untuk menciptakan hubungan keluarga yang lebih harmonis. Kemudian, kerugiannya adalah: 1) anak tertua harus menambal uang waris ketika uang tersebut kosong dan 2) setiap ahli waris tidak punya hak memiliki harta waris. Selanjutnya, berdasarkan pandangan maslahah Najamuddin at-Thufi, pembagian waris tersebut dapat menjaga tujuan hukum islam yakni maslahah. Najamuddin at-Thufi menegaskan bahwa manusia dapat menolak nash jika nash bertentangan dengan maslahah. Pembagian waris tersebut adalah persoalan muamalah yang termasuk hak manusia. At-Thufi menegaskan bahwa maslahah hanya berasal dari akal. Ia menempatkan akal lebih tinggi daripada Quran dan Hadis. Jadi, jika akal ahli waris melihat konversi hak waris menjadi bentuk simpan pinjam sebagai maslahah, maka itu harus dipertahankan.

ENGLISH:

Based on the Quran, the inheritance distribution is performed after deceased passed away. Then, the property is given to the heirs automatically. So, every heir has the right to possess the property. But, one of the families in the Village of Geluran, Taman, Sidoarjo made an agreement that heirs do not obtain the right to possess the property (the money). Their right was converted into saving and loan form. All their’s share was given to the deceased’s eldest son, and the money was saved by him. Any time, the heirs can borrow the money and return it when he/she is capable. The inheritance distribution does not limit the return time and it does not also set the interest. The inheritance distribution becomes a case that is researched because it has different way based on the Islamic law of inheritance. This research formulates the problems, namely: 1) Why do people convert inheritance right into saving and loan form? And 2) How does maslahah view on converting inheritance right into saving and loan form?

The research uses empirical research (field research) and qualitative approach that based on descriptive analysis. Locus of the study is in the Village of Geluran, Taman, Sidoarjo. The research uses primary and secondary data. The primary data is the interview to the informant (the heirs). The secondary data are written documents, books, previous researches, regulations that related to the thesis title. Especially, the researcher needs the books that talk about the concept of Islamic Law of Inheritance and maslahah. Furthermore, the maslahah of Najamuddin at-Thufi’s view is the tool analysis of the research. His concept is used as basic theory to discuss the finding facts. The discussion aims to obtain the result of the research correctly and theoretically.

The research provides the conclussion that the reason to convert the inheritance right into saving and loan form has three advantages and two disadvantages. The advatages are: 1) to help the heir who needs fund, 2) to prevent the disunity among heirs, and 3) to create more harmonious family relationship. Then, the disadvantages are: 1) the eldest son must patch the money when it is zero and 2) all heirs have no right to possess the money. Furthermore, based on the maslahah of Najamuddin at-Thufi’s view, the inheritance distribution can maintain the purpose of Islamic law namely maslahah. Najamuddin at-Thufi affirms that human can refuse the nash if it contradicts to the maslahah. The inheritance distribution is muamalah issues that included to the human’s right. At-Thufi confirms that the maslahah only comes from the reason. He places the reason higher than Quran and hadith. So, if the heirs’ reasons look the converting of inheritance right into saving and loan form as a maslahah, then it must be maintained.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Mahmudi, Zaenul
Keywords: Konversi Hak Waris; Simpan Dan Pinjam; Maslahah; Converting Inheritance Right; Saving and Loan
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012816 Mawaris (Inheritance)
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Indar Erdiana
Date Deposited: 08 Jul 2015 03:48
Last Modified: 08 Jul 2015 03:48
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/231

Actions (login required)

View Item View Item