Tradisi perkawinan di dekat mayit dalam perspektif hukum pernikahan Islam

Malik, Adi Yusfi (2012) Tradisi perkawinan di dekat mayit dalam perspektif hukum pernikahan Islam. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Introduction)
07210076_Pendahuluan.pdf

Download (405kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Abstract: Indonesia)
07210076_Indonesia.pdf

Download (78kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Abstract: English)
07210076_Inggris.pdf

Download (156kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Abstract: Arabic)
07210076_Arab.pdf

Download (369kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 1)
07210076_Bab_1.pdf

Download (323kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 2)
07210076_Bab_2.pdf

Download (562kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 3)
07210076_Bab_3.pdf

Download (485kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Chapter 4)
07210076_Bab_4.pdf

Download (309kB) | Preview
[img]
Preview
Text (References)
07210076_Daftar_Pustaka.pdf

Download (182kB) | Preview

Abstract

INDONESIA:

Perkawinan di dekat mayit atau biasa dikenal dengan istilah kawin mayit merupakan tradisi pernikahan yang dilakukan di dekat jenazah sebelum dikebumikan.Perkawinan adat ini sudah menjadi tradisi turun temurun yang hingga saat ini masih dilaksanakan oleh sebagian masyarakat seperti di Desa Plausan Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang dan Desa Tarebungan Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep.

Pelaksanaan tradisi kawin mayit ini masih menjadi tanda tanya besar, pasalnya tradisi kawin mayit ini terdapat perbedaan yang begitu mencolok dengan pernikahan pada umumnya. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah tinjauan dari hukum pernikahan dalam Islam sebagai analisa dari aspek keabsahan perkawinan tersebut, dan tinjauan dari kaidah “Al-‘Adatu Muhakkamat” untuk memastikan apakah tradisi kawin mayit layak untuk dijadikan sebuah pertimbangan hukum.

Skripsi ini merupakan sebuah penelitian jenis kepustakaan (Library Research) tentang pernikahan adat kawin mayit yang ditinjau dari sudut pandang hukum pernikahan Islam. Data penelitian dihimpun menjadi kajian teks dan kemudian dianalisis dengan tehnik deskriptif analisis.Dari beberapa argumen dan penjelasan-penjelasan atas data yang ada, bahwa tradisi pernikahan di dekat jenazah merupakan suatu permasalahan yang kontradiktif dengan hukum Islam, karena hukum Islam itu sendiri sudah mempunyai konsep tentang penikahan itu sendiri. Adapun adat istiadat, Islam juga berbicara masalah itu, bahwa adat tidak sepenuhnya dieliminasi, ada juga adat yang menjadi sebuah legitimasi syari’ah. Oleh karena itu Islam juga mempunyai konsep tentang penetapan sebuah adat yang menjadi sebuah hukum.

Dari hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa tradisi kawin mayit menurut hukum pernikahan Islam hukumnya mubah ketika semua rukun dan syarat sahnya pernikahan sudah terpenuhi seperti halnya di Desa Plausan.Namun status hukum mubah,bisa berubah menjadi tidak boleh jika salah satu rukun dan syarat sahnya pernikahan tidak sempurna seperti yang terjadi di Desa Tarebungan.Meski dalam tradisi kawin mayit terdapat sebuah perbedaan dalam segi hal pelaksanaan dengan konsep pernikahan dalam Islam, tetapi perbedaan itu tidak ada pengaruhnya jika semua ketentuan pernikahan dalam Islam terpenuhi. Adapun menurut kaidah “Al-‘Adatu Muhakkamat” adalah kawin mayit itu tidak dapat dijadikan sebagai pertimbangan hukum karena tradisi kawin mayit tersebut tidaklah memenuhi kriteria adat yang dapat dijadikan sebagai penetapan hukum karena adat tersebut cenderung masuk pada kategori adat yang fasid karena dalam pelaksanaannya bertentangan dengan nash. Selain itu, salah satu unsur dari adat tersebut menurut hukum Islam tidak logis karena menganggap perkawinan tersebut sebagai bentuk bakti terakhir anak kepada orang tua.

ENGLISH:

Wedding nearby corpse of well known as corpse wedding is a wedding tradition which is performed in front of before it is buried. This wedding tradition has become hereditarity tradition that is still performed by some societies like in Plausan village, Wonosari subdistrict, Malang regency dan Tarebungan village, Kalianget subdistrict, Sumenep regency.

The implementation of this tradition still becomes a big question, because there is striking difference between this tradition and wedding in general. Therefore, a perspective on wedding in Islam is needed as analysis from validity aspect of that wedding, and a perspective from the principle “Al-‘Adatu Muhakkamat” to ensure whether corpse wedding tradition is suitable to be law consideration.

This thesis is a library research on wedding tradition of corpse wedding observed from Islamic marital law perspective and the principle “Al-‘Adatu Muhakkamat”. Research data are collected to be text study and then they are analyzed by using analysis descriptive tehnique. From some arguments and explanations from the collected data, that this tradition is contradictory with Islamic law, because Islamic law has the consept of wedding. Islam also talks about culture, that culture is not eliminated utterly, there is also tradition that become legitimation of Islamic law. Hance Islam also has consept about decision of tradition that become a law.

From this research result, the researcher can take conclusion that corpse wedding tradition is based on Islamic marital law is permitted when all of pillars and requerements of wedding have been fulfilled like in Plausan village. However, the status of permitted wedding can be changed to be forbidden wedding if one of pillars and requerements of wedding are not completed as like happen in Tarebungan village. Although in this tradition there is a difference in implementation side with wedding concept in Islam, there is no effect in that difference if all of wedding judgment in Islam has been fulfilled. Based on principle “Al-‘Adatu Muhakkamat”, this tradition cannot be used as law judgment because the tradition does not fulfill tradition criteria that can be used as law judgment because the tradition is forbidden tradition due to its implementation is contradictory with the source of Islamic teaching (nash). Besides one of elements from the tradition based on Islamic law is not logical because people consider that the wedding as the last loyality of men to their parents.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Yasin, Noer
Keywords: Tradisi; Perkawinan; Mayit; Hukum Pernikahan IslamTradition; Marital; Corpse; Islamic Marital Law
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012801 Pernikahan (Secara Umum)
18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012829 Islamic Family Issues & Local Tradition
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Location: 18012829
Depositing User: Ratih Novitasari
Date Deposited: 11 Sep 2015 03:05
Last Modified: 11 Sep 2015 03:05
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/1952

Actions (login required)

View Item View Item