Tinjauan hukum Islam dan psikologi terhadap batas usia minimal perkawinan

Habibi, Habibi (2010) Tinjauan hukum Islam dan psikologi terhadap batas usia minimal perkawinan. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Thesis Fulltext)
04210045_Skripsi.pdf

Download (1MB) | Preview

Abstract

INDONESIA:

Usia perkawinan khususnya untuk perempuan, secara tegas tidak disebutkan dalam al-Quran maupun Hadist Nabi, sehingga anak perempuan pada usia yang belum memahami arti berumah tangga maka nikahnya adalah sah. Namun para ulama modern perlu memberikan batas minimal usia perkawinan dengan alasan untuk kemaslahatan bagi pasangan suami istri. oleh karena itu mengingat besarnya tanggung jawab dalam mengarungi sebuah rumah tangga dibutuhkan kematangan psikologis maupun kematangan reproduksi dan kedewasaan/kemampuan psikis kedua calon mempelai.

Adapun tujuan dari penelitian ini; (1) Untuk mengetahui tinjaun Hukum Islam dan psikologi terhadap batas usia minimal sebagai syarat syah perkawinan, (2) Untuk mengetahui relevansi konsep psikologi dan figh syafi’iyah tentang kemampuan bertanggung jawab dalam perkawinan, Dilihat dari jenisnya, penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (library research), yang menggambarkan fenomena secara apa adanya, yang dimaksudkan untuk pengukuran yang cermat terhadap fenomena sosial tertentu. Obyek utama penelitian ini adalah buku-buku, kitab-kitab, majalah, pamflet dan bahan dokumenter lainnya. Sumber perpustakaan ini diperlukan guna memperoleh bahan yang mempertajam orientasi dan dasar teoritis tentang masalah penelitian ini.

Dari hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa Syariat Islam tidak membatasi usia tertentu untuk menikah. Namun, secara implisit, syariat menghendaki orang yang hendak menikah adalah benar-benar orang yang sudah siap mental, fisik dan psikis, dewasa dan paham arti sebuah pernikahan yang merupakan bagian dari ibadah.

ENGLISH:

Age of marriage especially for women, not explicitly mentioned in the Koran and the Hadith of the Prophet, so that girls at that age do not understand the meaning of menage then illegitimate is legitimate. But modern scholars need to provide a minimum age of marriage on the grounds for the benefit for husband and wife. therefore given the responsibility as it navigates a household needed psychological maturity and reproductive maturity and adulthood / psychic abilities both prospective
bride.

The purpose of this study: (1) To know tinjaun Islamic law and psychology of a minimum age limit as a condition for legal marriage, (2) To determine the relevance of psychological concepts and figh Syafi'iyah about the ability of responsibility in marriage,

Views of its kind, this research including library research (library research), which describes the phenomenon as it is, intended for a careful measurement of a particular social phenomenon. The main object of this research is books, books, magazines, pamphlets and other documentary material. Sources of this library is needed in order to obtain material and sharpen the basic theoretical orientation of this research problem.

From these results we concluded that Islamic Law does not restrict a certain age to get married. However, implicitly, the Shari'a requires people who want to get married is really those who are ready mentally, physically and psychologically, mature and understand the meaning of a marriage that is part of worship.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Supervisor: Hamidah, Tutik
Keywords: Hukum Islam; Psikologi; Usia Perkawinan; Islamic Law; Psychology; Marriage Age
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012801 Pernikahan (Secara Umum)
Departement: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Heni Kurnia Ningsih
Date Deposited: 17 Aug 2015 01:38
Last Modified: 17 Aug 2015 01:38
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/1392

Actions (login required)

View Item View Item