Responsive Banner

Hak Ijbar dan hak Talak dalam Fiqih empat Mazhab perspektif Nalar Ijtihad Abdullah Bin Bayyah

Ali, Mohammad Mahrus (2018) Hak Ijbar dan hak Talak dalam Fiqih empat Mazhab perspektif Nalar Ijtihad Abdullah Bin Bayyah. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
16780003.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB) | Preview

Abstract

مستخلص البحث

ولاية الإجبار و حق الطلاق من المسائل الفقهية التي ينيغي أن نبحثها بحثا عميمقا ، لأنهما تتعلقان بحياة الأسرة التي هي المدرسة الأولى للأمة الإسلامية. فإنه قد يكون تطبيق ولاية الإجباربمعنى إنكاح البنات بغير رضاها مؤد يا إلى مشكلة الأسرة. وذلك لأن المرأة التي أنكهها وليها إجبارا قد تكره زوجها و تمتنع من تمكين نفسها لزوجها فيلحقها أنواع الأذى وقد يتركها بدون تطليقها أبدا ، والناس يزعمون أن الزوجة لا يمكن أن تفرق عن زوجها إلا إذا طلقها بدون إكراه لأن الطلاق جق الزوج ، إن شاء أوقعه وإن شاء لا يوقعه. وهذا الزعم أيدها بعض المشايخ في القرى.

في هذه الحالة تكون المرأة متضررة، فوليمة النكاح التي ينبغي أن تكون يوم فرح وسرور لها تكون عليها يوم بلاء ومصيبة ، والأيام بعد الوليمة التي ينبعي أن تعيش فيها في سكينة ومودة وفرح تكون عليها أيام حزن وغم وألم.

هذه المشكلة لا بد من أن نعالجها ليتحقق أن الأحكام الشرعية إنما شرعت لمصالح العباد في الدنيا والأخرة. ولأجل هذه المعالجة كان لهذا البحث هدفان: (١)معرفة ولاية الإجبار وحق الطلاق في المذاهب الأربعة و(٢) معرفة القول المناسب تطبيقه في إندونيسيا بناء على منهج إجتهاد عبد الله ابن بيه.

وحاصل هذا لبحث أن ولاية لإجبار من المسائل المختلف فيها ، والقول بعدم تطبيقها أنسب بواقع المحتمع بإندونيسيا. أما حق الطلاق فقد أجمع العلماء أنه بيد الزوج إلا أن للمراة حق طلبه لأسباب إختلف فيها العلماء وعلى القاضي تفريقها إذا تحقق أن المرأة متضررة بناء على القول بالتقريق لتلك الأسباب. ونظرا لحاصل هذا البحث أوصي الباحثين على أن يعالجوا المشكلة الإجتماعية المتعلقة بالمسألة الفقهية باختيار القول المناسب لواقع المجتمع المحقق لمقاصد الشريعة كما ذكره عبد الله ابن بيه.

ABSTRACT

The right of ijbar and the right of divorce is part of the discussion of Islamic Law which requires serious research, because both contain the life of Muslim families which in fact is the first education for every Muslim. The practice of ijbar guardian's rights often causes problems in family life. Many of the children appear and are evident in the rise of domestic violence. Worse yet, there is a belief that some women can not divorce from the husband even for whatever reason, except the husband his self doing a divorce without any compulsion from the others. This kind of belief also comes from some religious leaders in the villages. Accumulation, women of course who become victims of the beliefs of society that will not always be true. The wedding day should be the happiest day of her life, not be the most painful day. The days after the marriage that she was supposed to live in a peaceful and full of happiness turned became a sad day.

This kind of problem must be overcome, so that the purpose of Islamic law to realize happiness for every single human in the world and the hereafter can really be realized. Therefore, in this study the authors review the concept of ijbar rights and rights of divorce in four madzhab. Then conclusion of four madzhab thought will be writing by thought ijtihad of Abdullah bin Bayyah.

In the authors' discovery, the right of ijbar has many details and is debated among the schoolars of Islamic Law, but generally states mentioned that there is no ijbar right to be practiced. While in the matter of right of divorce, although it is true that the right of divorce is the right of the husband, but there are several reasons that give the right to a wife to sue for divorce theft. Considering any of these causes, it is also a debate in the scholars of 'four madzhab, but i am as the authors have opinion that in disadvantaged conditions, wife ask for divorce to the judge.

From these findings, the authors recommend every causes of problems related to Indonesia people, must refer to the most relevant Islamic Law thought to be applied with the goals of Shari'a and reality society as Abdullah bin Bayyah said.

ABSTRAK

Hak ijbar dan hak talak merupakan bagian dari pembahasan fiqih yang membutuhkan penelitian secara serius, karena keduanya menyangkut kehidupan keluarga Muslim yang notabene merupakan sekolah pertama bagi setiap umat Islam. Praktik hak ijbar wali tidak jarang menimbulkan problem dalam kehidupan keluarga. Banyak dari anak yang dinikahkan secara ijbar ternyata menolak kemauan walinya dan berakibat pada timbulnya kekerasan dalam rumah tangga. Parahnya lagi, dalam keyakinan sebagian masyarakat perempuan tidak bisa bercerai dari suaminya walau dengan alasan apapun, kecuali suaminya mau menjatuhkan cerai tanpa ada paksaan dari siapapun. Keyakinan semacam ini ternyata juga mendapat pembenaran dari sebagian tokoh-tokoh agama di desa-desa. Akibatnya, perempuanlah yang menjadi korban dari keyakinan masyarakat yang belum tentu benar ini. Hari pernikahan yang semestinya menjadi hari paling bahagia dalam kehidupannya, malah justu menjadi hari yang paling menyakitkan. Hari-hari setelah pernikahan yang semestinya dia jalani dalam suasana damai, tentram, dan penuh kebahagian malah justru mejadi hari-hari yang penuh kesedihan.

Problem semacam ini harus diatasi, agar tujuan syariat Islam untuk mewujudkan kebahagiaan bagi manusia di dunia dan akhirat benar-benar bisa terwujud. Karena itu, dalam penelitian ini penulis mengkaji konsep hak ijbar dan hak talak dalam empat mazhab. Kemudian pandangan empat mazhab tersebut penulis seleksi dengan menggunakan nalar ijtihad Abdullah bin Bayyah.

Dalam temuan penulis, hak ijbar memiliki perincian yang banyak dan menjadi perdebatan di kalangan mazhab-mazhab fiqh, namun secara umum pendapat yang menyatakan tidak ada hak ijbar lebih tepat untuk diamalkan. Sementara dalam masalah hak talak, meski benar bahwa hak talak merupakan hak suami, namun penulis ada beberapa sebab yang memberikan hak kepada seorang istri untuk menggugat cerai suaminya. Mengenai apa saja sebab-sebab tersebut juga menjadi perdebatan di kalangan ulama’ mazhab empat, hanya saja penulis berkesimpulan bahwa dalam kondisi istri benar-benar dirugikan hakim bisa menerima gugat cerai istri tersebut dengan mengacu kepada pendapat yang memperbolehkannya. Dari hasil temuan ini, penulis merekomendasikan agar segala persoalan fiqh yang menyangkut problem masyarakat Indonesia hendaknya dilihat dari persepektf berbagai mazhab, kemudian dipilih pendapat yang paling relevan untuk diterapkan dengan memperhatikan tujuan syariat dan realitas masyarakat sebagaimana disampaikan oleh Abdullah bin Bayyah.

Item Type: Thesis (Masters)
Supervisor: Saiban, Kasuwi and Yasin, Noer
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDSaiban, KasuwiUNSPECIFIED
UNSPECIFIEDYasin, NoerUNSPECIFIED
Keywords: ولاية الإجبار; حق الطلاق; المذاهب الأربعة، مهج الإجنهاد; إبن بيه; Perspective Thought Ijtihad; Abdullah bin Bayyah; The Right of Ijbar and Right of Divorce; Hak Ijbar; Hak Talak; Mazhab Empat; Nalar Ijtihad; Bin Bayyah
Departement: Sekolah Pascasarjana > Program Studi Magister al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Mohammad Syahriel Ar
Date Deposited: 21 Feb 2019 15:52
Last Modified: 21 Feb 2019 15:52
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/13141

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item