Responsive Banner

Hukuman mati bagi Koruptor perspektif teori Maslahah Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi

Laily, Nur (2018) Hukuman mati bagi Koruptor perspektif teori Maslahah Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
16750007.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB) | Preview

Abstract

مستخلص البحث

أصبحت عقوبة الإعدام بالنسبة للفساد مجادلة حادة للغاية بين الناس في هذا البلد. يوافق بعض القادة على تطبيق عقوبة الإعدام على المفسدين ، بينما يرفضها آخرون. يتم التعبير عن هذا الرفض في الغالب من قبل نشطاء حقوق الإنسان. إنهم يعتبرون عقوبة الإعدام مخالفة لحقوق الإنسان. في حين أن الأطراف الذين يوافقون عليها يرون إلى المصلحة العامة،؛فإن جريمة الفساد الحالية بالفعل تهدد اقتصاد البلاد. لذلك ، من المتوقع أن يكون لعقوبة الإعدام تأثير رادع على المفسدين وخلق الخوف على من ينوون فعل ذلك.

من المؤكد أن تنفيذ عقوبة الإعدام ليس بسيطًا لأنه يرتبط بالنفس والحياة. لذلك ، يصبح هذا البحث مهمًا جدًا ليتم تنفيذه. وفي هذه الدراسة ، يقدم المؤلف محور المشكلة على النحو التالي:
1. ما هو وضع الفساد في القانون الجنائي الإسلامي؟
2. ما هي العقوبة على وجهات نظر فاسدة في القانون الجنائي الإسلامي؟
3. كيف يتم تطبيق نظرية مصلحة البوطي لعقوبة الإعدام على المفسدين؟

هذا البحث من نوع البحث المعياري. لأن لباحث في هذه الدراسة يفحص القوانين المتعلقة بالفساد في الفقه الإسلامي. في حين أن النهج المستخدم في هذه الدراسة هو نهج نوعي. لأن البحث لا ينطوي على أرقام ، بل يتعلق بشكل العقاب على الجريمة.

بعض الأشياء التي توصلنا إليها في هذا البحث هي أن الفساد يشمل تصرفات الخيانة للأمانة ، والغلول ، والرشوة ، وهي الجريمة التي دخلت في مفهوم التعزير التي كان مقدار ها ونوعها راجعا لسياسة الحكومة. وفي حالة الفساد الذي أسفر عن تمرير النظام الاقتصادي ، وتعطيل استقرار الدولة ، وعلى حساب المجتمع الأوسع ، قد تعطي الحكومة سياسة عقوبة الإعدام للمفسدين. هذه العقوبة لا تتعارض مع نظرية المصلحة للبوطي لأنها تحتوي على الفوائد التي تدخل في نطاق غرض الشريعة ، وليس ضد النصوص الدينية ، وتتضمن تقديم المصلحة العامة على مصلحة الفرد.

وفي هذه الحالة ، نوصي الحكومة بالإحتياط في تنفيذ عقوبة الإعدام للمفسدين ولكن لاتتركها إذا كانت هي العقوبة الوحيدة لترك الأثر الرادع لمرتكبي الجرائم أو المجرمين المحتملين

ABSTRACT

The death penalty for corruptors has become a very sharp counterpart among the people in this country. Some leaders approve the application of capital punishment for corruptors, while others reject it. This refusal is mostly voiced by human rights supporters. They thought the death penalty is againts to human rights. While the others who approve more look to the common good. According to them, the current corruption crime really has threatened the country's economy. Therefore, the death penalty is expected to give deterrent effect to the corruptor and make the fear for people who intend to do it.

Implementation of the death penalty is certainly not simple because it relates to live and life. Therefore, this research becomes very important to be implemented. In this study, the author presents the focus of the problem as follows:
1. What is the status of corruption in Islamic criminal law?
2. What is the penalty for corruption in the perspective of Islamic criminal law?
3. How is the application of the maslahah al-Buthi theory to the death penalty for corruptors?

The research is a type of normative research. Because in this research the authors examine the law that concerns corruption from within the Islamic jurisprudence. While the approach used in this study is a qualitative approach. Because research does not involve numbers, but concerns the form of punishment for a particular crime.

Some of the things that our conclusion in this research is that corruption includes actions khiyanat to amanah, al-gulȗl, and risywah, the punishment entered in the concept of ta'zir. Regarding the form of ta'zir, submitted to government policy. In the case of corruption which resulted in the passage of the economic order, the disruption of the state's stability, and to the detriment of the wider society, the government may give a policy of capital punishment for corruptors. This death penalty is not contrary to the theory of maslahah al-Buthi, because it contains the benefits that fall within the scope of the purpose of the Shari'a, not against the religious texts, and includes putting the common good of the benefit of the individual.

In this case we recommend to the government to be careful in executing the death penalty for corruptors, but not leave it if it is indeed the only punishment that can ward off perpetrators or potential perpetrators of crime.

ABSTRAK

Hukuman mati bagi koruptor menjadi pro kontra yang sangat tajam di kalangan tokoh di negri ini. Sebagian tokoh menyetujui penerapan hukuman mati bagi koruptor, sedangkan sebagian yang lain menolaknya. Penolakan ini kebanyakan disuarakan oleh para aktifis HAM. Mereka memandang bahwa hukuman mati bertentangan dengan hak asasi manusia. Sedangakan pihak-pihak yang menyetujui lebih melihat kepada kemaslahatan umum. Menurut mereka, kejahatan korupsi saat ini benar-benar sudah mengancam perekonomian negara. Karena itu, hukuman mati diharapkan bisa memberi efek jera para koruptor dan membuat rasa takut bagi orang yang bermaksud melakukannya. Pelaksanaan hukuman mati tentu tidak sederhana karena berhubungan dengan nyawa dan kehidupan. Karena itu, penelitian ini menjadi sangat penting untuk dilaksanakan. Dalam penelitian ini, penulis mengetengahkan fokus masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana status korupsi dalam hukum pidana Islam?
2. Apa hukuman bagi koruptor perspektif hukum pidana Islam?
3. Bagaimana penerapan teori maslahah al-Buthi terhadap hukuman mati bagi koruptor?

Adapun penelitian ini merupakan jenis penelitian normatif. Karena dalam penelitian ini penulis mengkaji hukum yang menyangkut korupsi dari dalam fiqih Islam. Sedangkan pendekatan yang dipakai di dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Karena penelitian tidak menyangkut angka, tetapi menyangkut bentuk hukuman bagi tindak kejahatan tertentu.

Beberapa hal yang menjadi kesimpulan kami dalam penelitian ini adalah bahwa korupsi termasuk tindakan khiyanat terhadap amanah, al-ghulul, dan risywah, yang hukumannya masuk dalam konsep ta’zir. Mengenai bentuk ta’zirnya, diserahkan kepada kebijakan pemerintah. Dalam kasus korupsi yang mengakibatkan ruskanya tatanan ekonomi, terganggunya stabilitas negara, dan merugikan masyarakat luas, pemerintah boleh saja memberi kebijakan hukuman mati bagi koruptor. Hukuman mati ini tidak bertentangan dengan teori maslahah al-Buthi, karena ia mengandung kemaslahatan yang masuk dalam lingkup tujuan syariat, tidak bertentangan dengan nash-nash agama, dan termasuk mendahulukan kemaslahatan umum dari kemaslahatan individu.

Dalam hal ini kami merekomendasikan kepada pemerintah untuk berhati-hati dalam melaksanakan hukuman mati bagi koruptor, akan tetapi tidak meninggalkannya jika ia memang menjadi satu-satunya hukuman yang dapat menjerakan pelaku atau calon pelaku kejahatan.

Item Type: Thesis (Masters)
Supervisor: Hamidah, Tutik and Rofiq, Aunur
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDHamidah, TutikUNSPECIFIED
UNSPECIFIEDRofiq, AunurUNSPECIFIED
Keywords: Death Penalty; Corruptor; Maslahah; Al-Buthi; Hukuman Mati; Koruptor; Maslahah; Al-Buthi
Departement: Sekolah Pascasarjana > Program Studi magister Pendidikan Agama Islam
Depositing User: Mohammad Syahriel Ar
Date Deposited: 21 Feb 2019 15:52
Last Modified: 21 Feb 2019 15:52
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/13140

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item