Maghfuroh, Wahibatul (2018) Praktik ‘iddah karena Cerai Mati perspektif Maslahah Al-Thufi: Studi Kasus Kec.Pakuniran Kab. Probolinggo. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
|
Text (Fulltext)
16780009.pdf - Accepted Version Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives. Download (4MB) | Preview |
Abstract
مستخلص البحث
العدة اسم لمدة المرأة (الزوجة) للانتظار لا تجوز النكاح بعد وفاة زوجه مدة أربعة أشهر وعشرة يوما، معظم من النساء في نواحي باكونيران لا تفرضون العدة بعد وفاة أزواجهن بسبب عوامل: الأول عوامل اقتصادية وكثرة بطالة وحالة منزلية فقيرة وأكثرهن من متخرجات في المدرسة الابتدائية. حتى يكون طلب الاكتساب اللائق صعب. وأغلب أعمالهن فلاح وعامل المزرعة منه فتكون ضرورية الوجبات اليومية صعوبة. الثاني أنهن من علمانيات أقل معرفة لعدم التربية وأكثرهن من متخرجات في المدرسة الابتدائية فحسبه ودراستهن الدينية مرة في السنة (حفلة الامتحان). فلهن معلومات قليلة عن الشريعة الإسلامية كعدم الفهم عن العدة. الثالث انحراف لعدم تأنيب من الناحية العلوية كزعيم ونافذين ومن يفهم الشريعة الإسلامية ثم اختلاط. فالمشكلة موجودة حتى اليوم. نظرية مصلحة الطوفي دقيقة اعتبارا لتحليل المشكلة لأن لها معايير دقائق ومناسبة بتطور الزمان هو تقدم المصلحة على النص والإجماع لعوامل نظرا إلى تلك الحالة حتى يصدر اجتهاد جديد أي قرار.
أما المشكلات من هذا البحث فهي كيف واقعة الامرأة التي لا تفرض العدة لوفاة زوجها في نواحي باكونيران ببروبولينجو وكيف تطبيق العدة لوفاة الزوج وجهة نظر لمصلحة الطوفي في نواحي باكونيران ببروبولينجو.
هذا البحث من نوع البحث التجريبية بمدخل البحث الكيفي الوصفي. وأما البيانات المجموعة من البيانات الأولوية فهي مقابلة شخصية إلى المرأة التي لا تفرض العدة ومن أنكحها والنافذين وأما البيانات الثانوية فهي كتاب رعاية المصلحة لنظرية مصلحة. طريقة جمع بياناته باستخدام الدراسة الوثائقية أو التوثيق كآلة جمع البيانات. تقنية تحليل البيانات باختزالها وتقديمها والاستنتاج.
نتيجة البحث تدل على أن: (1) المرأة لا تفرض العدة بسبب عوامل: الأول اقتاصاد والثاني عدم معرفة والثالث انحراف لعدم تأنيب من زعيم وفاهم الشريعة الإسلامية واختلاط كخيانات. (2) المرأة لا يفرضها في هذا النكا باحتمال المصلحة والمفسدة. نظرا إلى مصلحة الطوفي، إن المرأة التي لا تفرض العدة تأتيها مصلحة لديها هي يمكن أن نفقها زوجها الثاني وتأتيها مفسدة خشية وجود نطفة من الزوج الأول وخشية الاختلاط بين النطفة الأولى والثانية وإبهام وضع الولد وحقوق ورثته.
ABSTRACT
‘Iddah is a term of a period for woman (wife) to wait and must not be married after the death of her husband or after separating from her husband for 150 days. In Pakuniran, there are many women who do not perform 'iddah after their husbands passed away due to several factors. The first is economic factors due to the large number of unemployed wives, the condition of underprivileged households, less educated, and difficulties of finding decent jobs. Most of those women are farmers with low income. The second, they are less educated women that many of them only graduated from elementary school, and their comprehension of syari’at or law in Islam is truly severe. Moreover, the only occasion they use to learn religion matters is at an annual celebration (Haflatul Imtihan); and it leads them to have less information about ‘iddah. The last factor observed is the absence of reprimand given by the authorities of the village, community leaders, people who understand the Islamic law, and because of permissiveness. So, it is not shocking that the problem still persists to this day. In this case, the researcher considers that theory of Maslahah al-Thufi is appropriate to analyze the problems raised because its criteria of maslahah is detail and can be adjusted with the advancement of time which prefers virtue or kindness than nash (text from hadith or Quran), and ijma’ (consensus of the Muslim scholars), and, also, because several factors mentioned can be resulted in a new law.
Formulation of the problem in this research is that how is reality of divorced women, because of the death of their husbands, who did not perform ‘Iddah in Pakuniran, Probolinggo; and how is ‘iddah, caused by death-divorced from the perspective of Maslahah al-thufi in Pakuniran, Probolinggo.
The researcher includes this study to empirical research with descriptive qualitative approach. In the same time, the data collected is primary data in form of interviews (interviewing the women mentioned, the priests who take their covenant, and the stakeholders), and strengthened by secondary data from analyzing Ri’ayah al-Maslahah, a theory book for maslahah. The act of collecting the data is done by analyzing document, and documenting or recording. In addition, the researcher utilizes data reduction, data presentation, and drawing conclusion as the data analysis technique.
The result of this study shows that: (1) women do not perform 'iddah due to several factors: the first is economy, the second is less educated, and the third is factor observed is the absence of reprimand given by the authorities of the village, community leaders, people who understand the Islamic law. (2) women don’t execute it in marriage she can elicit maslahah and mafsadah, if the review of theory of maslahah al-Thufi, women don’t carry our she can bring in maslahat for women, that can give a living by her second husband to spend something for maintenance, and can bring in mafsadah afraid there are the remains of the sperm from the husband first and mixed first and second husbands sperm as well as the lack of clarity of the rights status of the child and the rights of his heir
ABSTRAK
‘Iddah merupakan sebuah nama bagi masa lamanya perempuan (Istri) menunggu dan tidak boleh kawin setelah kematian suaminya atau setelah pisah dari suaminya selama 4 bulan 10 hari, dikecamatan pakuniran banyak perempuan-perempuan yang tidak melaksankan ‘iddah karena cerai mati disebabkan ada beberapa faktor yang pertama, faktor ekonomi, karena banyaknya pengangguran, kondisi rumah tangga yang kurang mampu dan kebanyakan lulus Sekolah Dasar (SD). sehingga untuk mencari pekerjaan yang layak sulit, dan kebanyakan pekerjaannya petani dan buruh tani sehingga untuk makan sehari-hari susah melihat penghasilanya. kedua, awam/pengetahuan minim karena banyak yang tidak sekolah, banyak yang lulus Sekolah Dasar, pengajian setahun sekali (Haflatul Imtihan). Sehingga mereka kekurangan informasi mengenai ajaran syariat-syari’at Islam seperti tidak paham ‘iddah. Ketiga, Penyimpangan karena tidak ada teguran dari pihak atasan seperti kepala desa, tokoh masyarakat, orang yang paham syari’at Islam dan pergaulan bebas. Sehingga masalah tetap ada sampai sekarang. Teori Masla{ha{h al-Thufi dianggap tepat untuk menganalisis permasalahan karena memiliki kriteria Masla{ha{h yang rinci dan dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman yaitu lebih mengedepankan maslahat dari pada nash dan ijma’ karena ada beberapa faktor melihat kasus tersebut, sehingga menghasilkan sebuah ijtihad baru/hukum.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana realita perempuan tidak melaksankan ‘iddah karena cerai mati di Kecamatan pakuniran Kabupaten probolinggo dan Bagaimana praktik ‘iddah karena cerai mati perspektif Masla{ha{h al-thufi di kecamatan pakuniran Kabupaten Probolinggo.
Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian empiris dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Sedangkan data yang dikumpulkan berupa data primer yakni wawancara kepada perempuan tidak melaksankan ‘iddah, kiai yang mengakadnya serta tokoh masyarakat dan data sekunder yakni kitab ri’ayah al-Masla{ha{h untuk teori Masla{ha{h. Pengumpulan data dilakukan menggunakan studi dokumen atau dokumentasi sebagai alat pengumpulan data. Teknis analisis data dengan mereduksi data, menyajikan data dan menarik kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Perempuan tidak melaksanakan ‘iddah karena ada beberapa faktor: Pertama ekonomi, kedua awam, dan ketiga penyimpangan karena tidak ada teguran dari kepala desa, orang yang paham syari’at Islam dan pergaulan bebas yaitu seperti perselingkuhan. (2) Perempuan tidak melaksankan ‘iddah dalam perkawinan ini dapat mendatangkan Masla{ha{h dan mafsadah, jika ditinjau dari teori Masla{ha{h al-Thufi, perempuan tidak melaksanakan ‘iddah dapat mendatangkan kemasla{ha{tan bagi perempuan, yaitu bisa di beri nafkah oleh suami kedua untuk menafkahinya, dan dapat mendatangkan mafsadah di kwatirkan ada sisa-sisa sperma dari suami pertama dan takut tercampurnya sperma suami pertama dan kedua serta ketidak jelasan hak status anak dan hak warisnya.
Item Type: | Thesis (Masters) | |||||||||
---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
Supervisor: | Hamidah, Tutik and Nasrulloh, Nasrulloh | |||||||||
Contributors: |
|
|||||||||
Keywords: | عدة; مصلحة الطوفي; She; Maslahah al-Thufi; Iddah; Masla{ha{h al-Thufi | |||||||||
Departement: | Sekolah Pascasarjana > Program Studi Magister al-Ahwal al-Syakhshiyyah | |||||||||
Depositing User: | Mohammad Syahriel Ar | |||||||||
Date Deposited: | 04 Dec 2018 15:17 | |||||||||
Last Modified: | 04 Dec 2018 15:17 | |||||||||
URI: | http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/12644 |
Downloads
Downloads per month over past year
Actions (login required)
![]() |
View Item |