Responsive Banner

Batas minimal Usia Perkawinan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Perspektif Integrasi Antara Ṡabat dan Taṭawwur Yusuf Al-Qarḍawy

Sebyar, Muhamad Hasan (2018) Batas minimal Usia Perkawinan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Perspektif Integrasi Antara Ṡabat dan Taṭawwur Yusuf Al-Qarḍawy. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img] Text (Fulltext)
16780001.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (3MB)

Abstract

مستخلص البحث

مازال الحد الأدنى لسن الزواج في القانون رقم 1 العام 1974 بشأن الزواج يواجه الانتقادات من المنظمات غير الحكومية التي تطالب من المحكمة الدستورية بزيادة حد الأدنى لسن الزواج لأنه يعتبر مخالفاً لحقوق الأطفال، بالإضافة إلى مراعاة العوامل الصحية واستعداد البيولوجية والنفسية والاقتصادية والاجتماعية. ومن ناحية أخرى، لم نجد في الفقه أي حد في سن الزواج، سواء بالنسبة للرجال والنساء، مما يعني أنه عندما يكون مستعدا فيمكن أن يتزوج للاجتناب عن الزنا، وتدمر الأخلاق. وما مدى أهمية الحد الأدنى لسن الزواج في المجتمع الإندونيسي والمجتمع الإسلامي بشكل خاص؟ ونلاحظ أن السن في مسألة الزواج ليس أمرا ثابتًا، بل يمكن تغيره وفقًا للعرف والمكان والوقت ووضع المجتمع المحلي.

يهدف هذا البحث إلى: أولا، معرفة الحد الأدنى لسن الزواج في القانون رقم 1 العام 1974 بشأن الزواج في منظور الثبات عند يوسف القرضاوي وتحليله. ثانياً: : معرفة الحد الأدنى لسن الزواج في القانون رقم 1 العام 1974 بشأن الزواج في منظور التطور عند يوسف القرضاوي وتحليله.

منهج البحث المستخدم في هذا البحث هو منهج البحث المعيارى (statute approach) ومنهج البحث المفاهيمي (conceptual approach). استخدم المنهج المفاهيمي للاستكشاف عن فكرة يوسف القرضاوي عن الجمع بين الثبات والتطور. وتم استخدام تلك الفكرة كأداة التحليل في مسألة الحد الأدنى لسن الزواج في إندونيسيا.

تتكونت نتائج هذا البحث من بندين، هما: 1) الحد الأدنى لسن الزواج في القانون رقم 1 العام 1974 بشـأن الزواج لم تمتص بعض مبادئ الثبات ليوسف القرضاوي، وخاصة ما يتعلق بمبادئ أساسية وقيم دينية أو الأخلاق. ومع ذلك، فإن ذلك القانون احتوى على عناصر الثبات الأخرى. من عناصر الثبات التي تم تطبيقها هي عنصر أهداف الزواج وغايته. في هذه الأثناء، هناك عنصران من الثبات اللذان لم يتما تضمينهما في القانون؛ الأول: عنصر المبادئ الأساسية. والثاني: عنصر القيم الدينية أو الأخلاق. 2 ) الحد الأدنى لسن الزواج في القانون رقم 1 العام 1974 بشأن الزواج قد طبق مبدأ التطور فيما يتعلق بالوسائل والأساليب، والأمور الفروعية، والعلوم. الوسائل والأساليب التي تم اتخاذها هي اعتبار صحي ونفسي وثقافي واجتماعي واقتصادي. سن الزواج هو من الفروعيات وغير ثابتة أو يقبل التغير وفقا لمكان، ووضع، وثقافة المجتمع. إذن، الحد الأدنى لسن الزواج في القانون رقم 1 العام 1974 بشأن الزواج مناسب؛ أي 16 سنة للنساء و 19 سنة للرجال. لأن الحد الأدنى لسن الزواج قد تم اعتباره على جميع عناصر التطور، مثل الصحة، والنفسية، والثقافة الاجتماعية والاقتصاد والعلوم.

ABSTRACT

Marriage age stated in Law Number 1 of 1974 concerning Marriage is often critized by many NGOs. They propose an amendment to Constitutional Court related to the marriage age because they consider the previous one is against children’s right, health, biological, psychological, economical and social factors. In addition, fiqh never mentions marriage age for both man and woman. It means that when people feel ready they can get married to avoid adultery and demoralization. The importance of marriage age in Indonesia and particularly in Islam is relative, since it can change due to custom, place, time social condition.

The study aims to find out and analyze the marriage age stated in Law Number 1 of 1974 concerning Marriage from the ṡabat perspective of Yusuf al-Qarḍawy and to find out and analyze the marriage age stated in Law Number 1 of 1974 concerning Marriage from the taṭawwur perspective of Yusuf al-Qarḍawy.

The study employs statute and conceptual approach. The latter is used to understand the thinking of Yusuf Al-Qarḍawy on the integration of ṡabat and taṭawwur. It will be used to analyze the problem of marriage age in Indonesia.

The result of the study shows two conclusions 1) The marriage age stated in Law Number 1 of 1974 concerning Marriage has not integrated some principles of ṡabat of Yusuf al-Qarḍawy, particularly the ones related with fundamental prnciples and religious value or akhlaq. However, the law has included some elements of ṡabat such as marriage goal and objective. Meanwhile, two elements are not yet stated in the law namely the element of fundamental principles and religious value or akhlaq 2) Marriage age stated in Law Number 1 of 1974 concerning Marriage has implemented the principle of taṭawwur (flexible) related with facilities and methods, furu’ things, and knowledge. Facilities and methods are the way considering health, psychology, culture, social and economy. Marriage age is furu’ and it is flexible based on place, condition and social culture. Therefore, the marriage age of 16 years old for woman and 19 years old for man is considered proper since it is set by considering the elements of taṭawwur such as health, psychology, socioculture, economy and knowledge

ABSTRAK

Batas minimal usia perkawinan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan selalu mendapatkan kritikan dari berbagai lembaga swadaya masyarakat yang meminta kepada Mahkamah Konstitusi agar diadakan penambahan terkait batas minimal usia perkawinan karena dianggap bertentangan dengan hak anak, selain itu mereka juga mempertimbangkan faktor kesehatan, kesiapan biologis, psikologis, ekonomi, dan sosial. Sementara itu, di sisi lain dalam fiqih tidak pernah dijumpai adanya batasan usia menikah, baik bagi laki-laki maupun perempuan, artinya jika sudah siap kapan saja bisa menikah untuk menghindari perzinahan dan rusaknya akhlaq. Seberapa penting adanya batas minimal perkawinan di masyarakat Indonesia dan masyarakat Islam secara khusus. Mengingat usia dalam pernikahan bukanlah hal konsisten, bisa saja berubah-rubah sesuai adat, tempat, waktu, dan keadaan masyarakat setempat.

Penelitian ini bertujuan untuk, pertama: mengetahui dan menganalisis batas minimal usia perkawinan dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dari sudut pandang ṡabat Yusuf al-Qarḍawy. Kedua: mengetahui dan menganalisis batas minimal usia perkawinan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dari sudut pandang taṭawwur Yusuf al-Qarḍawy.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang–undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Pendekatan konseptual digunakan untuk mendalami pemikiran Yusuf Al-Qarḍawy tentang integrasi antara ṡabat dan taṭawwur. Pemikiran tersebut digunakan sebagai pisau analisis terhadap problematika batas minimal usia perkawinan di Indonesia.

Hasil penelitian ini terdiri dari dua kesimpulan, yaitu 1) Batas minimal usia perkawinan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan belum menyerap beberapa prinsip ṡabat Yusuf Al-Qarḍawy, terkhusus yang berkaitan dengan prinsip-prinsip fundamental dan nilai-nilai agama atau akhlak, meskipun demikian undang-undang tersebut sudah mengandung unsur-unsur ṡabat yang lain. Beberapa unsur-unsur ṡabat yang sudah diterapkan tersebut adalah unsur tujuan dan sasaran pernikahan. Sementara itu, ada dua unsur ṡabat yang belum terkandung dalam UU Perkawinan yaitu pertama; unsur prinsip-prinsip fundamental. Kedua; unsur nilai-nilai agama atau akhlak. 2) Batas minimal usia perkawinan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan sudah menerapkan prinsip taṭawwur (luwes) yang berkaitan dengan sarana atau cara, hal-hal furu’, dan ilmu pengetahuan. Sarana atau cara yang ditempuh adalah dengan melalui pertimbangan kesehatan, psikologi, budaya, social dan ekonomi. Umur pernikahan adalah hal furu’ dan bersifat luwes sesuai tempat, keadaan, dan budaya masyarakat. Dengan demikian, sudah tepat usia perkawinan 16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun bagi laki-laki. Dikarenakan penetapan batas minimal usia perkawinan sudah mempertimbangkan semua unsur-unsur taṭawwur seperti kesehatan, psikologi, social budaya, ekonomi, dan ilmu pengetahuan seperti teknologi

Item Type: Thesis (Masters)
Supervisor: Fakhruddin, Fakhruddin and Sumbulah, Umi
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDFakhruddin, FakhruddinUNSPECIFIED
UNSPECIFIEDSumbulah, UmiUNSPECIFIED
Keywords: الزواج; حد سن الزواج; الثبات; التطور; Marriage; Marriage Age; Ṡabat; Taṭawwur; Perkawinan; Usia Perkawinan; Ṡabat; Taṭawwur
Departement: Sekolah Pascasarjana > Program Studi Magister al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Mohammad Syahriel Ar
Date Deposited: 31 Aug 2018 16:11
Last Modified: 31 Aug 2018 16:11
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/12176

Downloads

Downloads per month over past year

Actions (login required)

View Item View Item