المسؤولية المدنية للطبيب في الأخطاء الطبية دراسة مقارنة بين القانون المدني الليبي والشريعة الإسلامية

Alehirish, Mustafa Hamed Mohamed (2016) المسؤولية المدنية للطبيب في الأخطاء الطبية دراسة مقارنة بين القانون المدني الليبي والشريعة الإسلامية. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[img]
Preview
Text (Fulltext)
14751010.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB) | Preview

Abstract

مستخلص البحث

هدفت هذه الدراسة لمعرفة الطبيعة القانونية للمسؤولية المدنية للطبيب في الأخطاء الطبية الذي ثار الجدل في تحديدها هل هي مسؤولية عقدية أم تقصيرية وأيضا لتوضيح طبيعة التزام الطبيب تجاه المريض هل التزامه بتحقيق نتيجة أم ببذل عناية، وكذلك لمعرفة أقوال المذاهب الأربعة وموقفهم تجاه الخطأ الطبي وأيضاً موقف القانون الليبي في هذه الأخطاء.
واستخدم الباحث المنهج الوصفي المكتبيى في كتابة هذا الموضوع ،حيث قام بجمع المعلومات من الكتب القانونية ونصوص القانون المدني الليبي وقانون رقم 17 بشأن المسؤولية الطبية في ليبيا وأقوال وأراء فقهاء المذاهب الأربعة، ومن ثم مقارنتها واستخلاص النتائج منها.

فقد توصل الباحث من خلال البحث ، أن مسؤولية الطبيب تعتبر عقدية كلما وجد رابط عقدي بين الطرفين، واستثناءاً تعتبر مسؤولية تقصيرية، كما أن طبيعة التزام الطبيب اتجاه المريض يكون التزام ببذل عناية بالأصل وليس بتحقيق نتيجة ولكن هناك حالات استثنائية يلتزم فيها بتحقيق نتيجة. وهي الحالات التي يكون محلها محدداً بدقة كعمليات التجميل، واستعمال الأدوات والأجهزة الطبية والتركيبات الصناعية والأدوية ونقل الدم والتحاليل الطبيبة والتطعيم.

وأيضاً الاتجاه السائد في الفقه والقضاء، بأنه يجب النظر إلى وحدة الخطأ الطبي، لإتفاقه مع حكم القانون الذي لم يفرق بين نوع وآخر من الأخطاء، بحيث يسأل الطبيب عن أخطائه الضارة بالغير أو بمرضاه دون تفرقة بين خطأ جسيم أو غير جسيم.. وبذلك يتفق حكم القانون الوضعي الليبي مع حكم الشريعة الإسلامية حول وحدة مفهوم الخطأ أو وصفه في نطاق المسؤولية المدنية للطبيب، فلا مسؤولية عليه ولا ضمان. إلا إذا ثبت خروجه عن الأصول العلمية على وجه اليقين أو التحقيق عندئذ يعتبر مخطئاً فيتعرض للمساءلة والضمان (التعويض) وهذا ماأكدته الشريعة الإسلامية والقانون الوضعي وفقهاء المذاهب الأربعة ، كما أورد الباحث بعض التوصيات التي يجب أن يضعها المشرع الليبي في عين الاعتبار والتي من أهمها أن يتم تعديل واضافة بعض المواد التي يكون التزام الطبيب فيها بتحقيق نتيجة مع إضافة مذكرات شارحه لهذه المواد

ABSTRACT

The study aims to find out the law on doctor’s responsibility related with medical malpractice. It becomes controversial since it has to determine whether it will be doctor’s responsibility or be a malpractice. Furthermore, it explains doctors’ discipline on their patients; whether it is for patients’ recovery or it is a maximum effort done to achieve patients’ recovery. In addition, the study also aims to find out the opinions and responds of four main fiqh ulemas and Libyan law on medical malpractice.

In the study, the researcher employs a literature descriptive method. The data collection is done by library research on law and Islamic law, several Libyan criminal laws, Law number 17 concerning medical responsibility in Libya, and also ideas of four main fiqh ulemas. Then, the researcher compares them and draws conclusion.

The result shows that doctors have responsibility since they oblige to their contracts. An exception to the case will be a total failure. Being disciplinary to their patients, doctors should show their hard work based on procedures, not on achievement, except tight procedures such as plastic surgery, medicine and medical tools use, drug making, blood transfusion, blood analysis and vaccine.

The researcher also studies developing paradigm in fiqh and justice, which need review on medical malpractice since they are similar with the existing law: there is no malpractice classification. A doctor is sued for endangering the life of people or patients without classifying whether it is a major or minor mistake. Therefore, Libyan criminal law is in accordance with Islamic law in the aspect of concept unity and medical malpractice definition related with doctor’s responsibility. A doctor who fails the medical procedures consciously has to take the responsibility for it and pay the loss he causes. It is also emphasized by Islamic law, state law, and four main fiqh ulemas. The researcher also propose recommendation for Libyan law policy makers concerning the need of amendment and materials on doctor discipline through achievement and their further explanation.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hukum yang terkait dengan tanggung jawab seorang dokter dalam suatu kesalahan medis (malpraktek) yang menjadi kontroversi dalam menentukan apa itu sebuah tanggung jawab yang mengikat atau sebuah bentuk kekeliruan, dan untuk menjelaskan kedisiplinan seorang dokter terhadap pasien; apakah kedisiplinan tersebut berupa kesembuhan pasien atau usaha yang maksimal dalam penyembuhan pasien. Begitu juga untuk mengetahui pendapat empat ulama mazhab fiqih dan sikap mereka terhadap kesalahan medis, dan sikap Hukum Libya terkait hal tersebut.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif literatur, melalui pengumpulan data pustaka mengenai hukum dan hukum Islam, serta beberapa teks hukum pidana Libya dan undang-undang nomor 17 tentang tanggung jawab medis di Libya, gagasan dan pemikiran empat ulama madzhab fiqih, kemudian mengkomparasikan dan mengambil kesimpulan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tanggung jawab seorang dokter bersifat mengikat selama ada kontrak diantara kedua belah pihak. Adapun pengecualian dari hal tersebut apabila hal itu adalah sebuah kekeliruan. Sedangkan bentuk kedisiplinan seorang dokter terhadap pasien berupa usaha keras sesuai dengan prosedur, bukan pencapaian hasil, akan tetapi ada beberapa bentuk pengecualian yang menuntut pencapaian hasil; yaitu beberapa hal yang telah diatur secara ketat, seperti operasi kecantikan, penggunaan obat dan alat-alat medis, peracikan obat, transfusi darah, analisis darah dan vaksinasi.

Dan juga ada paradigma yang berkembang dalam fiqh dan peradilan, yaitu perlu peninjauan kembali terhadap kesalahan medis, karena hal tersebut sama dengan hukum yang berlaku saat ini; dimana tidak membedakan jenis kesalahan. Seorang dokter dituntut atas kesalahan yang dapat membahayakan orang lain atau pasien tanpa membedakan antara kesalahan fatal dengan kesalahan ringan. Oleh karena itu, hukum pidana Libya sejalan dengan hukum Islam dalam hal keutuhan konsep dan deskripsi kesalahan dalam ranah tanggung jawab seorang dokter. Seorang dokter tidak bertanggung jawab dan menjamin kecuali jika yang bersangkutan telah menyalahi prosedur keilmuan secara sadar dan terbukti bersalah, maka hal tersebut akan dipandang sebagai kesalahan dan dia harus bertanggung jawab serta mengganti rugi. Hal ini telah ditegaskan oleh hukum Islam, hukum negara, dan empat ulama madzhab fiqih. Peneliti juga menyampaikan beberapa rekomendasi untuk pembuat kebijakan hukum Libya terkait perlu adanya amandemen dan penambahan beberapa materi tentang kedisiplinan seorang dokter melalui pencapaian hasil, dan menambahkan beberapa catatan yang menjelaskan beberapa materi tersebut

Item Type: Thesis (Masters)
Supervisor: Arfan, Abbas and Nasrulloh, Nasrulloh
Keywords: المسؤولية المدنية للطبيب; الأخطاء الطبية; القانون المدني الليبي; الشريعة الإسلامية; Doctor’s responsibility; Medical Malpractice; Libyan Criminal Law; Islamic Law; Tanggung Jawab Dokter; Kesalahan Medis; Hukum Pidana Libya; Hukum Islam
Departement: Sekolah Pascasarjana > Program Studi Magister Ilmu Agama Islam
Depositing User: Mohammad Syahriel Ar
Date Deposited: 12 Mar 2018 09:10
Last Modified: 12 Mar 2018 09:10
URI: http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/10212

Actions (login required)

View Item View Item